Blog List

Friday, 14 July 2017

10 Tanaman Yang Boleh Dimakan Ketika Tersesat di Hutan


Tanaman Yang bisa Dimakan


Siapa yang mau terseat di hutan pastinya setiap petualang di dunia ini tidak menginginkan jika terseat di hutan. Biasanya jika tersesat di hutan dalam waktu yang sangat lama persedian makanan pun biasa akan habis nah dalam kondisi ini kamu harus mencari makanan yang bisa dimakan. Dihutan sendiri terdapat banyak tanaman yang bisa kamu konsumsi jika kehabisan makanan. Nah berikut ini ada beberapa tanaman di hutan yang bisa kamu konsumsi ketika terseat di dalam hutan mau tahu makanan apa aja itu simak 10 Tanaman Yang Boleh Dimakan Ketika Terseat di Hutan berikut ini.


1. Daun semanggi
Mungkin Anda pernah melihat ada rumput kecil di bawah tanah, dan memiliki daun mirip yang berbentuk seperti hati. Inilah daun semanggi atau biasa disebut clover.
Tak sulit untuk menemukan rumput clover. Rumput ini termasuk kosmopolit atau mudah ditemukan di dataran, termasuk hutan Indonesia. Nah, saat tersesat, tanaman inilah yang paling mudah Anda cari untuk bahan makanan. Ambil saja daunnya dan bersihkan kemudian konsumsi.

2. Nanas
Buah nanas tidak hanya bisa ditemukan di pekarangan rumah atau ladang saja. Tumbuhan yang masuk dalam suku Bromeliaceae atau nanas-nanasan ini bisa ditemukan di beberapa hutan yang ada di Indonesia.
Jika melihat ada buah nanas yang sudah cukup matang, Anda bisa memakan bagian buahnya. Keluarkan pisau lipat Anda, dan potong kecil-kecil daging buah. Jika membawa garam, nanas sebaiknya direndam dulu di air garam untuk meminimalisir getah.

3. Begonia
Anda tahu tanaman begonia? Biasanya tanaman ini dipajang di depan rumah sebagai hiasan. Nah, ternyata begonia juga banyak ditemukan di dalam hutan. Ciri-cirinya adalah tumbuhan ini berbulu di bagian tangkai hingga daun.
Meski tanaman berbulu biasanya tidak layak dikonsumsi, begonia bisa Anda manfaatkan sebagai bahan makanan jika sedang tersesat di hutan. Potonglah daun dan tangkainya kecil-kecil sebelum dimakan. Jika Anda membawa alat masak, sebaiknya direbus dulu sebelum dikonsumsi.

4. Pisang
Nah, siapa yang tidak kenal dengan pisang? Buah yang berasal dari famili Musaceae ini biasanya bisa Anda temukan di dalam hutan yang banyak dihuni monyet atau kera. Cukup ambil buahnya yang sudah matang, Anda pun mengonsumsinya.
Bagaimana kalau pohon pisang yang Anda temukan, belum berbuah? Jangan khawatir, belahlah batang pisang tersebut. Ambil batang muda di bagian paling tengah batang pisang. Batang muda itu bisa dimakan, walaupun rasanya tawar.

5. Pohpohan
Pohpohan adalah salah satu tumbuhan yang sudah biasa dijadikan lalapan di rumah-rumah. Tumbuhan berdaun lebar ini ternyata banyak ditemukan di hutan Indonesia. Biasanya, bagian pohpohan yang sering dikonsumsi adalah bagian daun mudanya.

6. Paku sayur
Salah satu tumbuhan yang banyak ditemukan di dalam hutan, terutama hutan Indonesia adalah jenis paku-pakuan. Tanaman paku memiliki ciri daun bergerigi, dan biasanya ada banyak kantung spora seperti bintik-bintik hitam di bagian bawah daun.
Nah, jika Anda bertemu tanaman seperti ciri-ciri di atas, berarti Anda dihadapkan dengan tanaman paku. Tanaman ini juga biasa dijadikan lalapan, sehingga disebut paku sayur. Sama seperti pohpohan, bagian tumbuhan paku yang bisa dinikmati adalah daun mudanya.

7. Rotan
Nah, selain paku tumbuhan lain yang banyak ditemukan di hutan Indonesia adalah rotan. Biasanya rotan hutan menjadi musuh utama para pendaki karena duri yang menyelimuti seluruh batangnya.
Namun ternyata tumbuhan ini bisa menjadi sahabat ketika Anda tersesat. Buah dari rotan yang masih muda aman untuk dimakan langsung. Sedangkan batangnya menyimpan air yang bisa untuk diminum.

8. Buah lo
Mungkin Anda belum pernah mendengar namanya. Ini adalah buah yang dihasilkan dari pohon elow. Beberapa daerah menyebutnya dengan nama buah lo atau elow. Sama seperti tanaman lain, buah lo banyak ditemukan di dalam hutan.
Buah ini berbentuk bulat dengan kulit hijau sedikit mengkilap. Jika dibelah, Anda bisa melihat bagian dalam buah yang diisi banyak biji-biji kecil, seperti bagian dalam buah nangka. Buah lo bisa dimakan mentah atau direbus. Saat mentah buah ini terasa agak asam, namun setelah direbus buah ini terasa manis.

9. Bambu
Saat tersesat dan kehabisan bahan makanan, tengoklah ke sekitar Anda, kali saja ada pohon bambu. Jika ada ambil bagian pangkal bambu muda yang biasa disebut rebung. Potong-potong hingga kecil dan konsumsi bagian yang tidak terasa pahit.

10. Selaginella
Satu lagi tumbuhan yang banyak ditemukan di hutan, yaitu selaginella. Ini adalah tanaman berdaun kecil seperti jenis paku-pakuan lainnya. Ya, selaginella memang masuk dalam kelompok paku.
Umumnya, daun selaginella berwarna hijau, tapi jangan kuatir jika melihat daun ini berwarna biru atau kemerahan. Selaginella memang bisa berfungsi sebagai penentu kada asam basa tanah. Cara mengonsumsinya harus sedikit berhati-hati, cuci daunnya dan potong kecil-kecil.
Sebagai tips saja semua makanan yang di makan oleh monyet juga bisa kamu makan juga lho ketika terseat di hutan.

For further information log on website :
http://baca-blogspot.blogspot.my/2012/10/10-tanaman-yang-boleh-dimakan-ketika.html

Kepentingan Hutan Paya Bakau



Paya bakau merupakan hutan semulajadi di kawasan pasang surut air laut . Mempunyai tanah berlumpur serta bersifat malar hijau sepanjang tahun, paya bakau merupakan antara ekosistem yang penting bagi kawasan pinggir pantai. Paya bakau merupakan anugerah yang tidak ternilai harganya. Mungkin tsunami 2004 yang melanda Banda Acheh dapat dikurangkan jika kawasan pinggir pantainya dipenuhi dengan hutan paya bakau,yang mampu menyerap tekanan dan kuasa tsunami yang hebat itu. Namun itulah ketentuan dan ujian Allah. Jom kita lihat kepentingan hutan paya pakau.
 
 Habitat Dan Ekologi Hidupan Marin dan Fauna lain
Sifat hutannya yang agak padat serta malar hijau sepanjang tahun sangat sesuai bagi hidupan laut. Sifat tananya yang berlumpur dengan akar bakau yang berselirat dan timbul itu merupakan habitat hidupan marin pinggir pantai seperti ikan, ketam, udang, kerang dan pelbagai jenis siput.Keadaannya yang sentiasa berair sangat sesuai bagi ekologi hidupan marin. Malahan terdapatnya hidupan lain seperti monyet dan burung yang turut mendiami kawasan paya bakau. Malahan paya bakau juga merupakan tempat pembiakan burung penghijarah yang biasanya datang jauh dari hemisfera uata atau selatan, demi mengelakkan musim sejuk di tempat asal mereka

Penampan tsunami dan angin kencang
Hutan pakau bakau boeh mempengaruhi pergerakan angin dari laut. dengan litupan dikawasan pinggir pantai angin yang kencang boleh dikurangkan dengan adanya paya bakau. Paya bakau juga boleh mengurangkan tekanan gelombang lautan yang hanya disedari kepentingannya selepas tsunami tahun 2004. Malaysia juga tidak terlepas dengan tsunami tersebut yang membadai kawasan laut negeri-negeri pantai barat Semenanjung Malaysia yang telah mengorbankan 68 nyawa, serta ratusan ribu yang lain diseluruh dunia termasuklah paling ramai di Indonesia.Paya bakau berperanan sebagai benteng semulajadi yang menghalang hempasan tsunami ke kawasan yang lebih jauh.

Penambak laut Semulajadi
Paya bakau dengan sifat akarnya yang timbul boleh memerangkap tanih dan lumpur.proses enapan akan berlaku yang membolehkan semua sisa lumpur terperangkap dan enapan yang berterusan akan memperluaskan kawasan paya bakau, semakin lama semakin besar .Ini membolehkan kawasan daratan bertambah.namun ambil masa sedikit kerana enapan mengambil masa yang panjang sebagai penambak laut.

Kayu bakau pelbagai kegunaan domestik dan perindustrian
Kayu bakau memang sudah popuar sebagai bahan binaan, kayu arang, kayu api, menyamak kulit haiwan . Sifatnya yang tahan serangan serangga perosak, tahan perut dan kulat membolehkan kayu bakau digunakan sebagai cerucuk. Cerucuk merupakan bahan asas, atau tapak bagi tiang rumah atau bangunan, yang ditanam, sebelum lapisan atas cerucuk dilapisi simen dan besi untuk menaikkan tiang. Malahan bagi jenis Rhizophora dan Brugiera boleh digunakan untuk membuat bot jika cukup umur dan matang.

Hutan Bakau untuk eko pelancongan
Hutan paya bakau merupakan aset pelancongan negara. Industri pelancongan berasaskan ekologi alam sekitar, merupakan konsep yang sangat popular di seluruh dunia. Pelancongan dari barat dan Jepun terutamanya suka kepada keindahan alam semulajadi. Paya bakau mampu menjadi pilihan pelancongan kerana keindahan serta sifatnya sebagai habitat hidupan marin serta fauna seperti burung penghijrah. Malahan terdapatnya juga serangga unik seperti kelip-kelip yang pastinya akan menjadi pilihan pelancong

For further information log on website :
http://baca-blogspot.blogspot.my/2012/09/kepentingan-hutan-paya-bakau.html

Nate Berkus’ Design Tips Can Play a Powerful Role in Quitting Smoking

TLC’s Nate Berkus talks to Healthline about designing a smoke-free home and the importance of refreshing your space with some new furniture, a new paint color on the door, and maybe a plant or two.

Nate Berkus
Quitting smoking is both one of the hardest and best things anyone can do for their health. Doing it successfully can mean redesigning your life and self-image.
Nate Berkus is a celebrity interior designer and star of TLC’s “Nate and Jeremiah by Design.” He knows how tough it can be to kick a smoking habit. He also knows what a crucial role interior design can play when quitting and creating a healthier lifestyle.
Nate recently partnered with Nicorette in a campaign to spread his message. He spoke with us about what inspired him to quit, how he stays on the path, and how anyone can make their home a smoke-free environment.

How long were you a smoker?

I’ve smoked on and off since I was a teenager. I picked up my first cigarette in high school, like most people do, and didn’t even think about it at all. I certainly didn’t think about the long-term consequences or the world changing around me, and having to walk outside of restaurants in the middle of dinner for a smoke break. So, I smoked on and off for close to 15 years or longer.

And how long has it been since you quit?


I’ve been smoke-free for five years now and it was a huge decision for me, largely based on becoming a dad two years ago. You make a lot of changes when you have your first child, and one of those changes was definitely a focus on my well-being and my health, because it just felt important to get healthy.

What role do you feel design can play in someone living a healthy lifestyle?

I do believe that design plays a huge role in lifestyle. I’ve seen the power of design change how kids do in school, when they have a designated area to do their homework, and they have all the supplies at their fingertips. I’ve seen people walk around feeling better about themselves and their schedules and jobs, when they come home and their house is organized and well-run.

If you’re quitting smoking, how important is design?

One of the things that’s always been interesting to me about how people are living is that we fall into habits. We pay our bills at the same place, we watch TV on the same sofa, everyone knows whose chair is whose. And to break a habit like smoking — if you have a ceremony around smoking or a place where you always smoke in the home — one of the things I found was really effective is to change it.

Create a space that’s in a different room, or make your own little area, wherever it is. But the idea is buying yourself a beautiful new chair, or updating the pillows, and getting rid of the things that smell like smoke. Buy a new rug in your favorite color, add artwork to the walls that’s inspirational, or a beautiful black and white photo of you and your family.

It helps you break the habit of smoking when your space looks different, and you get rid of stuff that was built around the ceremony of smoking.

Do you have any advice for people who smoke outside, like on their porch or lawn?

Same thing! Painting your front door a different color, buying some new chairs, or putting in a potted plant instead of an ashtray is going to change the way you feel when you go to that space. I’ve spent 20 years crafting environments for people to support the way they live and how they want to see themselves.

What is the best part about being a nonsmoker?

I think travel. Traveling when you’re a smoker is brutal. I remember caring so deeply about how long a flight was, or if there was a layover. Was there a way to get outside and have a cigarette? And now I’m like: How long is the flight and how many cartoons do I have on my iPad?

Can you pinpoint the moment when you really felt like a nonsmoker and you were out of danger of going back?

No, I wish I could. But definitely the idea of smoking a cigarette around my daughter, who’s 2 years old, just wasn’t the way I saw myself. And it’s very much at odds of how I view myself as a person.
There was a time when smoking seemed pretty cool to me. I lived in France for two years, and sitting outside a cafĂ© with a coffee and a cigarette had a certain romance for me at that time. But that’s not really my life anymore. My life now is driving back and forth to playdates and stepping on toys.

Elaine Atwell

Elaine Atwell is an author, critic, and founder of TheDart.co. Her work has been featured on Vice, The Toast, and numerous other outlets. She lives in Durham, North Carolina.

For further information log on website :
http://www.healthline.com/health/nate-berkus-on-quitting-smoking-and-design#4

The Negative Effects of Smoking with Psoriasis

psoriasis after smoking

You likely know that smoking cigarettes increases your risk for lung cancer. You may even know that a habit of smoking a pack per day also increases your chances of:
  1. cardiovascular disease
  2. bladder cancer
  3. kidney cancer
  4. throat cancer
If that’s not enough to make you put down the pack, consider that smoking also increases your chances of getting psoriasis. If you already have psoriasis, you’re likely to have more severe symptoms. If you’re a woman, this likelihood increases even further.
Keep reading for a look at what research says about the link between psoriasis and smoking. You’ll also hear from two psoriasis patients who share their story of why they quit smoking, as well as how quitting impacted their symptoms.

Psoriasis and Smoking

Psoriasis is a common autoimmune disease involving the skin and joints. Psoriasis affects about 2 percent of people in the United States. It’s estimated that psoriasis affects about 125 million people worldwide.

Smoking isn’t the only preventable risk factor for psoriasis, though it’s a big one. Other factors include:

  1. obesity
  2. alcohol consumption
  3. significant stress
  4. genetic predisposition, or family history

Family history can’t be changed. You can stop smoking, though, even if you think you can’t. If you do, there’s a good chance your psoriasis risk or severity might just decrease with your smoking frequency.
What exactly does research say on this topic? First off, numerous studies have found smoking to be an independent risk factor for psoriasis. That means people who smoke are more likely to have psoriasis. The more you smoke, and the longer you’ve smoked, the higher your risk.
“A cross-sectional study from Italy found that heavy smokers, those who smoke more than 20 cigarettes [per] day, had twice the risk of having severe psoriasis,” says Ronald Prussick, MD, an assistant clinical professor at George Washington University and the medical director of the Washington Dermatology Center in Rockville, MD. Prussick also serves on the medical board for the National Psoriasis Foundation.

Prussick refers to two more studies that illustrate smoking’s link to psoriasis. One, a subanalysis from the Nurses Health Study, found that nurses who smoked more than 21 pack years were twice as likely to develop psoriasis. A pack year is determined by multiplying the number of years you’ve smoked by the number of cigarette packs you smoke per day. Another study, on prenatal and childhood exposure to smoking, found that early exposure to smoking slightly increases the risk of developing psoriasis later in life.
Need more incentive? Prussick says some promising reports have shown that when people quit smoking, their psoriasis may become more responsive to various treatments.
Two Former Smokers’ Stories

Christine’s Story

Many might be surprised to know Christine Jones-Wollerton, 43, a health-minded doula and lactation consultant from Jersey Shore, New Jersey, struggled with a smoking addiction. She grew up surrounded by smoke. Her mother was a regular cigarette smoker, and her father smoked a pipe. It’s not surprising then (at least it shouldn’t have been) that she tried the habit out for herself at the age of 13.
“Although I didn’t truly start smoking until I was about 15, I quickly became a pack-and-a-half-a-day smoker,” she says.
After successfully adopting several healthier habits, such as vegetarianism, it remained especially hard for her to quit smoking. She tried to quit throughout her young adulthood, but she says it would always call her back. That changed when she watched her mother’s declining health, no doubt due at least in part to her smoking. “She died after a decade-long battle with bladder and lung cancer when I was five months pregnant with my first child, never getting to meet her first grandchild.”
That was it for Jones-Wollerton, who knew she didn’t want that scenario to play out for her child. With her unborn child in mind, she quit at the age of 29.

It wasn’t until a year later (six months after her first child was born) that Jones-Wollerton’s psoriasis showed up. She was taken by complete surprise. Since she was adopted, there was no family history to clue her in to her risk. She made no connection to her smoking at that time, but she admits that from what she knows now it could have played a part.
“I later learned though my research on the National Psoriasis Foundation website that smoking with a history of psoriasis in the family can increase your likelihood of developing psoriasis up to nine times!” she says.
While Jones-Wollerton did notice positive health changes following quitting smoking, it took almost two years for her severe psoriasis to start responding to treatment.
“I now know that smoking and drinking can decrease the effectiveness of some treatments, including biologic medications,” she says, adding that she’s now convinced that smoking impacted her psoriasis in multiple ways.
“I am sure that my years of heavy smoking and drinking were a trigger for my psoriatic disease,” she says. “Who knows if the long-term effects of smoking caused my slow response to treatment? What I do know is that once I stopped smoking and began the right biologic medication, coupled with PUVA and topical medication, my psoriasis eventually cleared up. I went from 95 percent coverage to less than 15 percent coverage, down to 5 percent.”
John’s Story
When John J. Latella, 74, of West Granby, Connecticut, started smoking in 1956 (at the age of 15), it was a different world. He, too, had parents who smoked, along with many relatives. During the 50s, he admits it was “cool” to walk around with your cigarettes rolled up in your T-shirt sleeve.
“In the service, cigarettes were cheap and always available, so smoking was a way to pass time,” he says. “I quit smoking in 1979, and at the time I was smoking cigars, about 10 a day, ” he says.
When Latella was first diagnosed with psoriasis in 1964 (at the age of 22), he says not much was known about psoriasis. His doctor didn’t bring up the connection between smoking and psoriasis.
Though he ended up quitting for health reasons, it wasn’t because of his psoriasis, directly.
He says that when he was first diagnosed, “I traveled by car quite a bit and smoking kept me awake.” He says, “From 1977 through 1979, I was diagnosed with bronchitis each year. In 1979, after spending several months clearing my torso of psoriasis, I got bronchitis. Within 24 hours, all the effort I had used in the previous several months was wiped away and my upper torso was covered with guttate psoriasis because of the respiratory infection.”
He remembers his doctor didn’t mince words. The doctor told him to expect recurring bouts of bronchitis if he planned to continue smoking. So he quit, cold turkey. “It was one of the most difficult challenges that I have ever had to undertake,” he says. Latella encourages others to go through the process with assistance, if possible.
Latella’s psoriasis continued to get progressively worse in spite of his quitting smoking. Yet his respiratory issues did lessen. He doesn’t remember getting guttate psoriasis since.
Even though he didn’t see a drastic improvement to his symptoms after quitting smoking, he’s still glad he did. He encourages everyone still smoking to do the same.

“I am happy to see that so many dermatologists are suggesting that psoriasis patients think about quitting,” he says. He only wished his doctor had given him that recommendation 40 years ago.

Consider Quitting Today

Sure, there’s still much that’s not yet known about just how smoking causes this increased risk and severity. Not everyone sees a change in their symptoms after quitting. Researchers continue to investigate the ins and outs of this correlation. Regarding the research that exists today, Prussick says it’s a topic that doctors should be addressing with all psoriasis patients.
“Given our knowledge that smoking increases the risk of developing psoriasis and makes psoriasis more severe, it is important to have this discussion with our patients,” he says. “The immune system can respond positively to healthy diet and lifestyle changes and quitting smoking is an important part of this behavioral change.”
Whether you consider quitting for yourself, for your children, or a reason that’s entirely unique to you, know that you can do it.

“There are so many reasons to stop smoking,” says Jones-Wollerton. “But if you have a history of psoriasis in your family or you have already been diagnosed, please try. If you’ve tried before, try again and keep trying. Any amount that you reduce is a benefit. You may see a reduction in severity, the amount of flares, and a better response to treatment. What better time to quit than right now!”
For further information log on website :
http://www.healthline.com/health/psoriasis-after-quitting-smoking#4

PERTUBUHAN BIJI KACANG HIJAU

Tujuan :
  • Untuk membandingkan pertumbuhan biji kacang hijau di dua tempat yang berbeda (tempat terang dan tempat gelap).
Latar Belakang Teori:
Pertumbuhan diartikan sebagai suatu proses pertambahan ukuran atau volume serta jumlah sel secara irreversible, atau tidak dapat kembali ke bentuk semula. Perkembangan adalah peristiwa perubahan biologis menuju kedewasaan tidak dapat dinyatakan dengan ukuran tetapi dengan perubahan bentuk tubuh (metamorfosis) dan tingkat kedewasaan. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua aktifitas kehidupan yang tidak dapat dipisahkan, karena prosesnya berjalan bersamaan.
Tumbuhan yang masih kecil, belum lama muncul dari biji dan masih hidup dari persediaan makanan yang terdapat di dalam biji, dinamakan kecambah (plantula). Awal perkecambahan dimulai dengan berakhirnya masa dormansi. Masa dormansi adalah berhentinya pertumbuhan pada tumbuhan dikarenakan kondisi lingkungan yang tidak sesuai. Berakhirnya masa dormansi ditandai dengan dengan masuknya air ke dalam biji suatu tumbuhan, yang disebut dengan proses imbibisi. Imbibisi terjadi karena penyerapan air akibat potensial air yang rendah pada biji yang kering. Air yang berimbibisi menyebabkan biji mengembang dan memecahkan kulit pembungkusnya dan juga memicu perubahan metabolik pada embrio yang menyebabkan biji tersebut melanjutkan pertumbuhan. Enzim-enzim akan mulai mencerna bahan-bahan yang disimpan pada endosperma atau kotiledon, dan nutrien-nutriennya dipindahkan ke bagian embrio yang sedang tumbuh.
Biji dapat berkecambah karena di dalamnya terdapat embrio atau lembaga tumbuhan. Embrio atau lembaga tumbuhan mempunyai tiga bagian, yaitu akar lembaga/calon akar (radikula), daun lembaga (kotiledon), dan batang lembaga (kaulikulus).
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, salah satunya, yaitu faktor cahaya. Cahaya kelihatannya merupakan petunjuk utama yang memberitahu benih bahwa ia telah menembus tanah. Kita dapat menipu biji kacang hijau, sehingga biji tersebut bertingkah laku seolah-olah ia masih tetap terkubur dengan cara mengecambahkan biji dalam kegelapan. Dari keadaan tersebut, kami termotivasi untuk melakukan pengamatan terhadap pertumbuhan biji kacang hijau di dua tempat berbeda yaitu di tempat gelap dan tempat terang. Pemilihan tempat ini sudah melalui pertimbangan pada beberapa faktor, seperti yang telah disebutkan pada kalimat sebelumnya. Untuk itu kami membuktikannya dengan melakukan pengamatan seperti yang tercantum pada laporan ini. 

Alat dan Bahan: 
Alat :

Bahan:
  • Kacang hijau secukupnya (30 butir).
  • Toples sebagai wadah (2 buah).
  • Tanah secukupnya.
  • Lidi secukupnya.
  • Air secukupnya.


Langkah Kerja :

  1. Menyiapkan alat-alat dan bahan yang diperlukan.
  2. Merendam kacang hijau yang akan ditanam selama 8 jam.
  3. Memasukkan tanah ke dalam dua toples menggunakan cetok.
  4. Menanam 10 biji kacang hijau di masing-masing toples.
  5. Menandai masing-masing kacang hijau dengan lidi yang telah diberi label nomor.
  6. Menaruh satu toples di tempat terang.
  7. Menaruh toples lainnya di dalam kardus sebagai tempat gelap.
  8. Menyiram biji-biji kacang hijau pada masing-masing toples dengan air secukupnya. Penyiraman ini dilakukan dengan frekuensi 1 kali sehari.
  9. Mengukur batang kacang hijau, ketika muncul daun pertama pada tumbuhan kacang hijau tersebut.
  10. Memotret setiap perkembangan pada tumbuhan kacang hijau.

Hasil dan Pembahasan
Hasil Pengamatan
Dalam melakukan percobaan ini, kita perlu mengikuti beberapa tahap seperti yang telah dijelaskan dalam langkah kerja. Untuk dapat membandingkan perbedaan kelajuan pertumbuhan batang tumbuhan kacang hijau, maka dalam percobaaan ini biji kacang hijau di tempatkan di dua kondisi yang berbeda. Salah satu toples (sebagai wadah) yang berisi 10 biji kacang hijau di tempatkan di tempat yang terang dan toples lainnya di tempatkan di tempat yang gelap. Percobaaan ini dilakukan selama beberapa hari. Dalam percobaan ini ditetapkan bahwa pengukuran hari pertama untuk tumbuhan kacang hijau adalah saat awal munculnya daun pertama dari tumbuhan kacang hijau tersebut hingga pengukuran ke-10. Untuk membuktikannya kami melakukan beberapa percobaan dengan hasil percobaan sebagai berikut.
1. Hasil pengamatan pada tempat terang.
Untuk mendapatkan perbandingan kelajuan, maka dalam percobaan ini toples yang berisi 10 biji kacang hijau di tempatkan di tempat terang. Sehingga didapatkan tinggi dari kacang hijau seperti yang ditampilkan dalam tabel berikut ini.
Tabel Pengukuran Pertumbuhan Biji Kacang Hijau di Tempat Terang
Tanaman
Hari ke ... (mm)
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
1
11
54
80
95
105
117
129

2
12
42
57
64
74
88
101

3
16
65
94
102
108
117
128

4
10
46
74
84
96
108
117

5
14
53
90
101
112
124
135

6
7
41
81
94
110
119
128

7
11
51
92
102
110
120
131

8
8
40
63
84
93
102
113

9
8
52
89
101
114
121
132

10
12
55
81
94
103
113
124

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa pertumbuhan setiap biji kacang hijau tidaklah sama walaupun telah ditempatkan di kondisi terang, tanah dan pemberian air yang sama. Namun ini tidak berarti bahwa pertumbuhan mereka persis sama. Salah satu faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor genetik. Gen dapat mengatur pola pertumbuhan dengan cara menurunkan sifat-sifatnya dan sintesis-sintesis yang dikendalikannya. Sehingga genetis tanaman satu dengan yang lainnya akan memiliki pola pertumbuhan yang berbeda akibat susunan gen yang berbeda-beda.
Grafik pertumbuhan biji kacang hijau di tempat terang dapat dilihat pada bagian lampiran.
Tabel Pertambahan Panjang Tanaman Kacang Hijau (di Tempat Terang) Perhari
Tanaman
Hari ke ... (mm)
Ket
1
2
3
4
5
6
7

1
11
43
37
58
47
70
59

2
12
30
27
37
37
51
50

3
16
49
45
57
51
66
62

4
10
36
38
46
50
58
59

5
14
39
51
50
62
62
73

6
7
34
47
47
63
56
72

7
11
40
52
50
60
60
71

8
8
32
31
53
40
62
51

9
8
44
45
56
58
63
69

10
12
43
38
56
45
68
56

Rata-rata
10.9
39
41.1
51
51.3
61.6
62.2

Rata-rata panjang pertumbuhan biji kacang hijau dari hari pertama sampai hari ketujuh berturut-turut adalah sebagai berikut : 10,9; 39; 41,1; 51; 51,3; 61,6; 62,2. Pertumbuhan biji kacang hijau yang paling pesat adalah antara hari kedua dan ketiga. Pertumbuhan tanaman mula-mula lambat, kemudian berangsur-angsur lebih cepat sampai tercapai suatu maksimum, akhirnya laju tumbuh menurun.
2. Hasil pengamatan pada tempat terang gelap.
Untuk mendapatkan perbandingan kelajuan, maka dalam percobaan ini toples yang berisi 10 biji kacang hijau di tempatkan di tempat gelap. Sehingga didapatkan tinggi dari kacang hijau seperti yang ditampilkan dalam tabel berikut ini.
Tabel Pengukuran Pertumbuhan Biji Kacang Hijau di Tempat Gelap
Tanaman
Hari ke ... (mm)
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
1
12
77
131
158
181
206
230

2
11
71
133
161
186
214
237

3
11
65
109
129
153
175
196

4
10
56
104
132
152
173
195

5
28
97
134
160
192
215
242

6
11
60
113
154
175
201
224

7
18
86
131
159
180
207
231

8
7
61
120
144
163
187
210

9
23
76
132
160
182
209
232

10
24
84
123
146
164
189
213

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa pertumbuhan setiap biji kacang hijau tidaklah sama walaupun sama-sama ditempatkan di kondisi gelap, tanah dan pemberian air yang sama. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, salah satu faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor genetik.
Bila dibandingkan antara pertumbuhan tumbuhan kacang hijau yang berada di tempat terang dan tempat gelap. Maka pertumbuhan tumbuhan kacang hijau di tempat gelap memiliki pertumbuhan lebih pesat dibandingkan tumbuhan kacang hijau yang berada di tempat terang. Mengapa demikian? Masalah ini akan dibahas dalam pembahasan di bawah ini.
Grafik pertumbuhan biji kacang hijau di tempat terang dapat dilihat pada bagian lampiran.
Tabel Pertambahan Panjang Tanaman Kacang Hijau (di Tempat Terang) Perhari
Tanaman
Hari ke ... (mm)
Ket
1
2
3
4
5
6
7

1
12
65
66
92
89
117
113

2
11
60
73
88
98
116
121

3
11
54
55
74
79
96
100

4
10
46
58
74
78
95
100

5
28
69
65
95
97
118
124

6
11
49
64
90
85
116
108

7
18
68
63
96
84
123
108

8
7
54
66
78
85
102
108

9
23
53
79
81
101
108
124

10
24
60
63
83
79
110
103

Rata-rata
15.5
57.8
65.2
85.1
87.5
110.1
110.9

Rata-rata panjang pertumbuhan biji kacang hijau dari hari pertama sampai hari ketujuh berturut-turut adalah sebagai berikut : 15,5; 57,8; 65,2; 85,1; 87,5; 110,1; 110,9. Pertumbuhan biji kacang hijau yang paling pesat adalah antara hari pertama dan kedua. Pertumbuhan pada selang hari kedua dan ketiga serta selanjutnya berlangsung normal.
Pembahasan
Pratikum di atas membandingkan pertumbuhan kacang hijau yang diletakkan di dua tempat berbeda, yaitu tempat terang dan gelap. Dari hasil pengamatan di atas, kecambah kacang hijau yang paling cepat tumbuh adalah kecambah kacang hijau yang berada di tempat gelap. Tumbuhan kacang hijau di tempat gelap ini dengan begitu cepat tumbuh menjadi tinggi. Ini memunculkan sebuah pertanyaan, mengapa kecambah yang berada di tempat gelap lebih cepat pertumbuhan tingginya, dibandingkan dengan kecambah yang berada di tempat terang? 
Faktor yang menyebabkan kecambah kacang hijau di tempat gelap lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan kecambah di tempat terang adalah adanya pengaruh dari hormon auksin. Salah satu fungsi yang paling penting dari hormon auksin adalah merangsang pemanjangan sel pada tunas muda yang sedang berkembang. Hormon auksin dihasilkan pada bagian koleoptil (titik tumbuh) pucuk tumbuhan. Jika terkena cahaya matahari, auksin menjadi tidak aktif. Kondisi fisiologis ini mengakibatkan bagian yang tidak terkena cahaya matahari akan tumbuh lebih cepat dari bagian yang terkena cahaya matahari. Akibatnya, tumbuhan akan membengkok ke arah cahaya matahari. Auksin yang diedarkan ke seluruh bagian tumbuhan mempengaruhi pemanjangan, pembelahan dan diferensiasi sel tumbuhan. Auksin yang dihasilkan pada tunas apikal batang dapat menghambat tumbuhnya tunas lateral. Bila tunas apikal batang dipotong maka tunas lateral akan menumbuhkan daun-daun. Peristiwa ini disebut dominansi apikal. Inilah yang menjadi penyebab kecambah yang berada di tempat gelap lebih cepat pertumbuhan tingginya, dibandingkan dengan kecambah yang berada di tempat terang.
Namun ada kekurangan yang dialami oleh tumbuhan yang berada di tempat gelap. Tumbuhan yang tumbuh di tempat gelap akan tumbuh lebih cepat, namun dengan kondisi tekstur batangnya sangat lemah dan cenderung warnanya pucat kekuningan, kurus, dan daunnya tidak berkembang (etiolasi). Keadaan ini terjadi akibat tidak adanya cahaya sehingga dapat memaksimalkan fungsi auksin untuk pemanjangan sel-sel tumbuhan. Sebaliknya, tumbuhan yang tumbuh di tempat terang menyebabkan tumbuhan tumbuh lebih lambat dengan kondisi relatif pendek, tekstur batangnya sangat kuat dan juga warnanya segar kehijauan serta daun berkembang baik.
Kesimpulan:
* Tumbuhan yang masih kecil, belum lama muncul dari biji dan masih hidup dari persediaan makanan yang terdapat di dalam biji, dinamakan kecambah (plantula). Awal perkecambahan dimulai dengan berakhirnya masa dormansi. Berakhirnya masa dormansi ditandai dengan dengan masuknya air ke dalam biji suatu tumbuhan, yang disebut dengan proses imbibisi.
* Biji dapat berkecambah karena di dalamnya terdapat embrio atau lembaga tumbuhan. Embrio atau lembaga tumbuhan mempunyai tiga bagian, yaitu akar lembaga/calon akar (radikula), daun lembaga (kotiledon), dan batang lembaga (kaulikulus).
* Dari hasil pengamatan, tumbuhan kacang hijau di tempat gelap memiliki pertumbuhan lebih pesat dibandingkan tumbuhan kacang hijau yang berada di tempat terang. Faktor yang menyebabkan kecambah kacang hijau di tempat gelap lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan kecambah di tempat terang adalah adanya pengaruh dari hormon auksin. Jika terkena cahaya matahari, auksin menjadi tidak aktif. Kondisi fisiologis ini mengakibatkan bagian yang tidak terkena cahaya matahari akan tumbuh lebih cepat dari bagian yang terkena cahaya matahari. Tumbuhan yang tumbuh di tempat gelap akan tumbuh lebih cepat, namun dengan kondisi pucat, kurus, dan daunnya tidak berkembang (etiolasi). Keadaan ini terjadi akibat tidak adanya cahaya sehingga dapat memaksimalkan fungsi auksin untuk pemanjangan sel-sel tumbuhan. Sebaliknya, tumbuhan yang tumbuh di tempat terang menyebabkan tumbuhan tumbuh lebih lambat dengan kondisi relatif pendek, daun berkembang baik, dan berwarna hijau.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Informasi Spesies Kacang Hijau. (http://www.plantamor.com), diakses tanggal 21 Agustus 2009 pukul 18:34)
Anonim. 2008. Kecambah Kacang Hijau. (http://www.isotockphoto.com, diakses tanggal 22 Agustus 2009 pukul 09:41)
Aryulina, Diah. 2004. Biologi SMA untuk kelas XII. Jakarta : Esis.
Campbell, N. A, J. B. Reece and L. E. Mitchell. 2002. Biologi. Jakarta : Erlangga.
Hildayani. 2009. Kurva Sigmoid Tumbuhan. (http://www.21ildahshiro.blogspot.com, diakses tanggal 9 September 2009 pukul 17:14)
Irwan, Aep Wawan. 2005. Kebutuhan Air, Iklim, dan Waktu Tanam Kedelai, Kacang Tanah, dan Kacang Hijau. (http://www.pustaka.unpad.ac.id, diakses 31 Agustus 2009 pukul 17:14)
Silvia, Ai Fitri. 2007. Laporan Pratikum Biologi. (http://www.silvia261.blogspot.com, diakses tanggal 9 September 2009 pukul 17:04)
Tjitrosoepomo, Gembong. 1986. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Lampiran
Grafik Pertumbuhan biji kacang hijau di tempat terang

Grafik pertumbuhan biji kacang hijau di tempat gelap
Awal Perendaman Kacang Hijau

Usai Perendaman Kacang Hijau

Awal Penanaman Biji Kacang Hijau di Tempat Terang

Awal Penanaman Biji Kacang Hijau di Tempat Gelap

Tempat Terang Hari Kedua

Tempat Gelap Hari Kedua 
Tempat Terang Hari Ketiga Pengukuran Hari Pertama

Tempat Gelap Hari Ketiga Pengukuran Hari Pertama

Tempat Terang Hari Keempat Pengukuran Hari Kedua

Tempat Gelap Hari Keempat Pengukuran Hari Kedua

Tempat Terang Hari Kelima Pengukuran Hari Ketiga

Tempat Gelap Hari Kelima Pengukuran Hari Ketiga

Tempat Terang Hari Keenam Pengukuran Hari Keempat

Tempat Gelap Hari Keenam Pengukuran Hari Keempat

For further information log on website:
http://deyasmadani.blogspot.my/2010/04/pertumbuhan-biji-kacang-hijau.html

Advantages and Disadvantages of Fasting for Runners

Author BY   ANDREA CESPEDES  Food is fuel, especially for serious runners who need a lot of energy. It may seem counterintuiti...